BEKASI,KHABARINVEST— Pemerintah tidak ingin mega proyek energi bersih di Indonesia jalan di tempat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah disiapkan sebagai langkah antisipasi jika investor swasta nasional maupun asing kedodoran atau ogah-ogahan membiayai proyek raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp.
Proyek transisi energi yang nilainya ditaksir menembus angka fantastis USD73 miliar atau setara dengan lebih dari Rp1.140 triliun ini menjadi salah satu ambisi besar pemerintah. Meski skema utamanya tetap mengandalkan mekanisme tender bagi Independent Power Producer (IPP) atau pihak swasta, pemerintah memasang jaring pengaman agar proyek ini tidak mangkrak di tengah jalan.
“Pemerintah tetap memprioritaskan lewat proses tender bagi swasta. Namun, jika swasta tidak masuk, tidak berminat, atau penawarannya dinilai tidak kompetitif, Danantara siap turun tangan mengambil alih,” ujar Bahlil dalam keterangannya.
Fakta di Balik Mega Proyek PLTS 100 GWp:
- Skala dan Tahapan: Proyek raksasa ini akan dibangun secara bertahap selama tiga tahun ke depan. Pada tahap awal, pemerintah bahkan telah memulai groundbreaking untuk 14 titik PLTS dengan total kapasitas mencapai sekitar 5,2 GWp.
- Potensi Penghematan Negara: Jika target 100 GWp ini sukses terealisasi sepenuhnya, pemerintah memproyeksikan adanya efisiensi anggaran subsidi energi hingga Rp73,9 triliun setiap tahunnya.
- Penciptaan Lapangan Kerja: Selain menghemat subsidi, proyek energi surya ini digadang-gadang mampu membuka lebih dari 5,5 juta lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Kehadiran Danantara sebagai opsi strategis diharapkan mampu memberikan kepastian hukum serta kepercayaan pasar (bankability) yang lebih kuat, sehingga ambisi Indonesia menuju kemandirian energi hijau tetap dapat tercapai sesuai target tanpa hambatan berarti.











